Showing posts with label (artikel). Show all posts
Showing posts with label (artikel). Show all posts

Friday, 30 July 2010

(artikel) Tembok Berlin, Monumen Perang Dingin

1.      Latar Belakang Masalah
Perang Dunia II yang berkecamuk di Eropa sejak tahun 1941 mencapai akhirnya dengan kekalahan Jerman oleh Tentara Merah. Soviet, sebagai salah satu bagian dari pasukan sekutu, berhasil menguasai Jerman sebagai negara fasis terakhir setelah Italia. Karena Rusia merupakan satu dari empat negara sekutu (Soviet, AS, Prancis, Inggris), Jerman dibagi menjadi empat wilayah pendudukan. Termasuk kota Berlin sebagai ibukota ikut dibagi kedalam empat sektor.
AS, Prancis dan Inggris berada di sisi barat Jerman yang nantinya disebut sebagai Jerman Barat. Sedangkan Soviet berada di timur dengan Jerman Timur-nya. Berlin sendiri berada di dalam wilayah Jerman Timur yang nantinya akan menjadi medan pertama dan utama Perang Dingin.
Kondisi ekonomi yang sangat parah akibat Perang Dunia ditambah lagi kerusakan berbagai infrastruktur, membuat Jerman sempat mengalami krisis ekonomi,terutama Jerman Timur. Ini disebabkan oleh Jerman Barat (AS, Prancis, Inggris), menandatangani perjanjian kerjasama dan membentuk sistem pemerintahan federasi. Yang membuat mereka bekerjasama dalam pembangunan Jerman Barat. Sementara Soviet yang ingin memberikan otonomi untuk Jerman Timur agar menjadi mandiri dalam memerintah wilayahnya tidak diberi izin. Ini karena 3 suara lawan 1. Krisis yang berkepanjangan juga disebabkan oleh Barat yang tidak mau memperbaiki kawasan industri yang hancur oleh perang di Jerman Timur karena mereka sibuk membenahi wilayah mereka masing-masing.
Ini membuat Jerman Timur jauh tertinggal dibanding tetangganya. Hingga akhirnya warga Jerman Timur memilih pindah ke Jerman Barat. Eksodus yang terjadi, terutama di Berlin, menghasilkan Tembok Berlin sebagai pemisah Berlin Barat dan Berlin Timur.

2.      Sejarah dan Bentuk Tembok Berlin
Pembicaraan mengenai pembangunan tembok ini sebenarnya terjadi 1 April 1952, ketika pemimpin Jerman Timur berkunjung ke Moskow dan bertemu dengan Stalin. Dalam diskusi tersebut, Vyacheslav Molotov menteri luar negeri milik Stalin, mengajukan saran agar Jerman Timur menggunakan sistem perlintasan untuk berkunjung ke Berlin Timur yang tidak dapat dilewati begitu saja oleh agen-agen Barat. Stalin setuju dengan menyebut situasi ini sebagai situasi yang tidak dapat diterima. Stalin menyarankan agar Jerman Timur membangun pertahanan perbatasannya. Dia berpendapat bahwa garis demarkasi ini tidak hanya sekedar sebuah perbatasan, tapi perbatasan yang harus berbahaya dan Jerman menjaganya dengan nyawa.
Tembok Berlin (bahasa Jerman : Berliner Mauer) yang dibangun 13 Agustus 1961 memiliki posisi yang unik dalam membatasi kedua bagian Berlin. Dibangun bukan tepat di garis perbatasan, tapi beberapa meter dari garis batas Berlin Barat dan Berlin Timur. Yang kemudian dipisahkan beberapa meter lagi dengan tembok lain, sehingga ada tanah kosong beberapa meter yang diisi dengan pasir. Pasir di antara Tembok Berlin sendiri, memiliki kelemahan dan keuntungan bagi para penyeberang ilegal. Memang, pasir mudah digali untuk membuat terowongan melewati tembok, tapi pasir juga gampang membuat terperosok ketika para penyeberang-penyeberang ini mencoba lari melewati Tembok Berlin. Tanah kosong ini disebut juga death strip atau tanah kematian.
“Tembok” ini sebelumnya hanya berupa kawat berduri sepanjang 155 km lebih. Juni 1992, kawat berduri dibangun lagi dengan jarak 91 meter mendekat ke pemukiman. Rumah-rumah warga yang menghalangi pembangunan kawat berduri dirobohkan dan penghuninya direlokasi. Death strip sebelum pasir adalah hamparan kerikil. Dengan begini, akan ada daerah terbuka yang dapat digunakan oleh penjaga perbatasan untuk menembak. Sebelum mencapai bentuk tembok yang nantinya akan dikenal orang luas, Tembok Berlin melalui beberapa perbaikan dan pengembangan.
Jadi, generasi pertama tahun 1961 masih berbentuk kawat berduri biasa. Tahun 1962 hingga 1965 menjadi tembok beton. Tahun 1965 hingga runtuh, tembok ini mencapai bentuk terbaiknya dengan penggunaan “elemen penguat dinding UL 12.11” yang selesai pengerjaannya tahun 1980. Dibangun dengan 45.000 bagian beton yang terpisah membentuk tembok yang utuh setiap panjang 3,6 meter dan lebar 1,2 meter dan menghabiskan $ 3.638.000 juta. Penyempurnaan terus dilakukan dengan penambahan pipa yang licin di atas tembok agar lebih sulit untuk dipanjat, kawat berbentuk jala, penahan sinyal, parit anti-kendaraan, anjing penjaga sepanjang perbatasan, paku yang tergantung di death strip, ratusan menara pengawas, dan puluhan bunker.

3.      Dampak-dampak yang Terjadi Selama Berdirinya Tembok Berlin
Dalam pembangunannya, Tembok Berlin diawasi dan dijaga ketat oleh tentara-tentara Soviet. Setelah selesai, Tembok Berlin menutupi Berlin Barat seutuhnya. Meskipun demikian, godaan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik membuat beribu-ribu orang mencoba menyeberang ke Berlin Barat. Ribuan diantaranya terluka atau berakhir pada kematian.
Perbedaan sistem ekonomi dan pemerintahan antara kedua belah Blok membuat perbedaan yang sangat kental begitu terasa dalam kehidupan dan kesejahteraan warga-warga mereka. Barat yang menerapkan sistem ekonomi pasar sosial dan pemerintahan parlementer demokrasi memberi kesempatan kepada warganya untuk terus berkembang dengan menggunakan potensi yang mereka miliki secara maksimal dalam memenuhi penghidupannya. Pemberian bantuan dana untuk pembangunan infrastruktur dan pemulihan ekonomi Jerman Barat yang dilakukan secara terus-menerus, membuat stabilitas terjadi dalam masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan selama 30 tahun mendapat julukan ‘keajaiban ekonomi’. Barat juga memberi iming-iming kewarganegaraan kepada setiap warga Jerman Timur yang pindah ke Jerman Barat.
Sementara Soviet dengan Komunismenya yang sentralis membuat warga di negara-negara satelitnya justru jatuh miskin termasuk Berlin. Warga Berlin Timur yang menyeberang ke Berlin Barat terpaksa meninggalkan keluarga, teman, pekerjaan, dan tempat tinggal mereka setelah Tembok Berlin dibangun dan larangan melintas secara bebas diberlakukan. Jauhnya jarak masyarakat dengan pusat aktifitas ekonomi yang berada di ‘seberang kota’ menjadi beban berat lainnya yang sangat sulit ditanggung oleh rakyat Jerman Timur khusunya Berlin Timur.
Setiap aksi turun ke jalan untuk berunjuk rasa yang dilakukan oleh warga Berlin Timur dibalas dengan tindakan represif dari tentara. Sehingga tidak sedikit yang terluka atau tewas. Cara-cara militer yang diterapkan oleh Soviet membuat angka eksodus yang terjadi di Jerman mencapai 200.000 orang lebih. Dan ratusan diantaranya melalui Tembok Berlin.
Di Berlin Barat, anak-anak muda membentuk Gerakan Pemuda Jerman dan menjadi ‘sayap kiri’ yang radikal. Posisi Tembok Berlin memberikan cara ‘unik’ untuk bersosialisasi. Tembok yang dibangun beberapa meter dari perbatasan Berlin Barat dan Berlin Timur membuat Kepolisian Berlin Barat tidak memiliki otoritas dan yurisdiksi untuk mengganggu orang-orang yang menggunakan jarak kosong di tembok itu untuk melakukan tindakan huru-hara. Berlin Barat menjadi salah satu pusat pemberontakan pelajar. Dan wilayah Kreuzberg menjadi pusat dari banyak bentrokan yang terjadi.
Penyeberangan dari dan menuju Berlin secara resmi hanya bisa dilakukan melalui delapan titik perbatasan, itupun tidak semua orang bisa menyeberang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menyeberang, yaitu warga Jerman Barat dan dari negara Barat lainnya dengan menggunakan visa yang dikeluarkan oleh Jerman Timur, dengan Jerman Timur memiliki hak tidak mengijinkan pemberian visa tanpa perlu memberi alasan. Sementara warga Berlin Barat sempat diberi satu kesempatan melaui perjanjian antara Jerman Barat dan Jerman Timur pada Natal 1963. Sementara bagi warga Eropa Timur justru sebaliknya. Berbagai aturan menyulitkan dikeluarkan untuk mencegah mereka. Khusus bagi tentara sekutu, urusan resmi, dan diplomat boleh melewati perbatasan tanpa paspor dan juga sebaliknya bagi Soviet.
Penyeberangan illegal yang berhasil menuju Berlin Barat mencapai 5.000 orang, sementara kegagalan yang berbuntut pada kematian mencapai ratusan orang. Penjaga perbatasan memperoleh kebebasan menembak melalui otoritas Jerman Timur yang mengatakan bahwa, “jangan ragu untuk menembak. Tidak peduli anak-anak atau wanita. Itu hanya taktik yang sudah sering digunakan”. Jerman Timur menganggap bahwa semua penyeberang illegal adalah criminal yang layak mati.
Sebelum Tembok Berlin “sempurna”, orang-orang biasanya lompat melalui lantai tertinggi apartemen. Hingga Jerman Timur memerintahkan semua apartemen di sekitar tembok dikosongkan dan pemukiman sekitar tembok harus memalang jendela mereka. Berbagai cara lain misalnya dengan langsung melompati pagar kawat, membuat terowongan, menggunakan balon udara, atau dengan mobil yang langsung menerjang perbatasan. Ketika hal ini terjadi, Jerman Timur memasang batangan logam sebagai penahan agar tidak terulang lagi. Tapi dengan kreatifitas dan kemauan untuk lepas dari Soviet, empat pemuda memodifikasi mobil mereka untuk lolos dari batangan besi yang telah terpasang. Ada juga dengan menggunakan pesawat ukuran kecil dan lain-lain.
Penyeberang yang gagal melewati death strip tidak berani ditolong karena akan memicu penembakan oleh penjaga. Penjaga kadang membiarkan orang yang terluka mati dengan sendirinya. Penyeberang terakhir melalui tembok yang tewas tertembak adalah Chris Gueffroy tanggal 6 Februari 1989.

4.       Peristiwa-peristiwa Penting Hingga Runtuhnya Tembok Berlin
           
a.       Respon Awal
Respon pertama atas rencana pembangunan Tembok Berlin berasal dari warga Berlin Barat yang dipimpin oleh walikota mereka. Mereka mengkritik AS sebagai sekutu Soviet yang gagal menghentikan niat Soviet. Gelombang pengungsi yang terus masuk ke Berlin Barat, meskipun telah diperkirakan oleh AS, tetap tidak terbendung.
            25 Juli 1961, John F. Kennedy memberikan pidatonya bahwa pembangunan tembok ini adalah pelanggaran terhadap Perjanjian Postdam. Perjanjian ini memberikan Blok Barat kemampuan administrasi pada seluruh daerah Berlin. Tapi, beberapa bulan setelahnya, pemerintahan AS memberitahu pemerintahan Soviet bahwa mereka menyetujui pembangunan tembok ini. Dan menganggap tembok ini sebagai “fakta kehidupan internasional” dan harus diterima.
Untuk berjaga-jaga, tanggal 20 Agustus di tahun yang sama pemerintahan Blok Barat menempatkan pasukannya di Berlin Barat dan sekitarnya yang terus dirotasi setiap tiga bulan selama tiga setengah tahun ke depan. Rotasi ini melalui jalan resmi yang diizinkan oleh Soviet. Permintaan izin ini diperlukan karena pasukan dari Barat melalui jalan-jalan di Jerman Timur.

b.      Blokade Berlin
Aksi patroli Blok Barat tidak berlangsung lama. Tanggal 24 Juni 1948, Soviet menutup seluruh akses darat menuju Berlin Barat. Peristiwa yang merupakan salah satu krisis terparah dalam Perang Dingin ini disebut Blokade Berlin. Peristiwa ini bermula pada 12 Juni 1948 ketika jalan yang biasanya digunakan untuk menyeberang menuju Berlin Barat oleh Soviet ditutup untuk perbaikan. Tiga hari kemudian giliran lintasan antar wilayah Berlin ikut ditutup, dan 21 Juni seluruh lalu-lintas perdagangan ditutup oleh Soviet. Akhirnya, pada tanggal 24 Juni Soviet mengumumkan karena “masalah teknis” tidak akan ada lagi perlintasan menuju Berlin baik melalui jalan raya maupun rel kereta. Beberapa hari setelah itu, Soviet kembali mengumumkan bahwa mereka tidak akan membantu suplai bagi daerah milik Barat. Barat yang berusaha mengajukan negosiasi ditolak mentah-mentah oleh Soviet.
Saat blokade ini dimulai, Berlin hanya memiliki suplai makanan untuk 35 hari dan arang untuk 45 hari dalam kondisi musim dingin. Warga Berlin Barat mencoba bertahan hidup menggunakan apapun yang mereka bisa temukan. Mereka menebang pohon-pohon di taman untuk membuat perapian tetap menyala dan menjatah porsi makan mereka agar cukup selama mungkin. Seandainya Soviet memulai peperangan, Berlin akan jatuh seutuhnya karena jumlah pasukan Barat di Berlin yang terbatas karena penarikan pasukan yang dilakukan setelah PD II berakhir.

c.       Berlin Airlift
30 November 1945 akhirnya solusi ditemukan untuk krisis di Berlin yaitu melalui udara. Ruang luas yang kosong di udara memberikan akses langsung menuju Berlin Barat. Tidak seperti tank, Soviet tidak dapat mengklaim pesawat kargo sebagai ancaman militer. Soviet hanya memiliki dua pilihan, yaitu menembak atau membiarkan saja. Bila mereka memilih menembak berarti mereka baru saja melanggar perjanjian yang mereka buat sendiri dan menyulut peperangan terbuka.
Kerjasama AS dan Inggris untuk mendaratkan pesawat di Bandara Tempelhof, Berlin berhasil. Melalui perhitungan matang, dibutuhkan 1.534 ton bahan makanan dan 3.475 ton arang dan bahan bakar setiap harinya untuk membuat 2 juta warga Berlin Barat bertahan. Beberapa bandara sengaja dipersiapkan khusus untuk pesawat kargo yang akan mengangkut suplai yang akan dikirimkan. AS menamakan misi ini Operation Vittles, Inggris menamakannya dengan Operation Plainfare. Dalam misi ini juga ada “misi tidak resmi” yang diberi nama Operation Little Vittles. “Misi” ini bermula ketika seorang pilot AS menggunakan waktu luangnya mengunjungi Berlin sambil membawa kamera. Begitu mendarat, ia menuju ke kerumunan anak-anak kemudian bertanya-tanya mengenai pesawat dan penerbangan yang dilakukan oleh pasukan Barat di Berlin. Pilot itu kemudian mengeluarkan dua permen Wrigley's Doublemint Gum dan berjanji akan membawa lebih banyak permen jika mereka tidak bertengkar.
Hari berikutnya, pilot tersebut menjatuhkan beberapa coklat batangan yang terikat pada parasut dari saputangan kepada anak-anak yang telah menanti di bawah. Setiap hari kerumunan anak-anak yang terus bertambah “memaksa” si pilot menambah jumlah coklatnya. Segera, tumpukan surat dari anak-anak yang ditujukan kepada si pilot ditambah lagi berita di koran membuat komandannya jengkel dan marah. Meskipun demikian, pilot-pilot lain akhirnya “latah” dan anak-anak di AS yang mendengarnya ikut menyumbangkan coklat. “Misi” ini berhasil mengantarkan total 3 ton permen dan menjadi propaganda yang sukses.
Kesuksesan misi ini memalukan bagi Soviet. Setelah dilakukan negosiasi yang serius, persetujuan dicapai. 11 Mei 1949 tengah malam, Blokade Berlin berakhir. 2.326.406 ton suplai dikirimkan dan 278.228 penerbangan berhasil dilakukan selama blokade.
d.      Runtuhnya Tembok Berlin
            Tanggal 23 Agustus 1989, komunis Hungaria menghilangkan larangan menyeberang dengan Austria, sehingga pada bulan September lebih dari 13.000 turis dari Hungaria lari menuju Austria. Demonstrasi besar-besaran menentang pemerintahan Jerman Timur dimulai Oktober 1989. Pemimpin jangka panjang Jerman Timur, Erich Honecker, mundur 18 Oktober 1989 dan digantikan oleh Egon Krenz beberapa hari kemudian. Honecker memperkirakan pada bulan Januari tahun itu bahwa Tembok Berlin akan berdiri “seratus tahun lagi” jika kondisi yang menjadi alas an tembok tersebut dibangun belum berubah.
            Protes menyebar di seluruh Jerman Timur pada September 1989, yang intinya mereka ingin meninggalkan Jerman Timur. Jerman Timur menyebut ini sebagai awal dari Revolusi Damai pada akhir 1989. Pemrotes ingin menciptakan “sosialisme yang manusiawi” dan pada tanggal 4 November 1989, jutaan pemrotes yang terus bertambah berkumpul di Alexanderplatz di Berlin Timur.
            Sementara itu, gelombang pengungsi yang meninggalkan Jerman Timur menuju Jerman Barat terus bertambah dan menemukan jalan melalui Cekoslowakia yang diperbolehkan berkat perjanjian kerjasama Krenz dan komunis Cekoslowakia. Agar lebih mempermudah lagi, politburo yang dipimpin oleh Krenz memperbolehkan penyeberangan melalui titik persimpangan Jerman Barat dan Timur termasuk Berlin Barat pada tanggal 10 November. Di hari yang sama, menteri administrasi memperbaharui proposal mengenai regulasi baru yang melingkupi perjalanan swasta meskipun penerapannya dilakukan tanggal 10 November. Günter Schabowski, Menteri Propaganda Jerman Timur, bertugas mengumumkannya. Padahal, Schabowski sedang berlibur dan tidak mengetahui perkembangan yang sedang terjadi mengenai regulasi baru bepergian yang baru saja disahkan. 9 November, sehari sebelum diumumkan, dia menerima pesan bahwa warga Jerman Timur diperbolehkan menyeberang dengan izin yang jelas, tapi tidak diberitahukan apa yang harus dia lakukan dengan informasi tersebut. Regulasi ini baru selesai beberapa jam dan baru diterapakan keesokan harinya, sehingga ada waktu untuk memberitahu penjaga perbatasan. Tapi, tidak ada orang yang memberitahu Schabowski. Di akhir konferensi, dia membacanya dengan sangat keras dan ketika ditanya kapan regulasi ini akan mulai diterapkan, dia mengira adalah pada hari yang sama ketika ia membacakannya. Jadi ia menjawab, “ Setahu saya secepat mungkin, tanpa penundaan”.

            10.000 ribu orang yang mendengarnya melalui televisi langsung memenuhi titik periksa Tembok Berlin berharap dapat masuk ke Berlin Barat. Petugas yang terkejut dan kewalahan membuat mereka menghubungi dengan segera atasan mereka, tapi tidak ada petinggi Jerman Timur yang berani mengambil tanggungjawab untuk memutuskan mencegahnya dengan kekerasan. Jadi, tidaklah mungkin para penjaga yang kalah jumlah bisa menahan kerumunan penduduk Jerman Timur. Di hadapan kerumunan yang terus bertambah, penjaga akhirnya berteriak agar segera membuka perbatasan dan membiarkan para warga melintas. Kegembiraan yang meluap dari warga Jerman Timur dibalas dengan sukacita dari warga Berlin Barat. 9 November menjadi hari keruntuhan Tembok Berlin. Dan ini menjadi awal berakhirnya Perang Dingin.

Monday, 26 July 2010

(artikel) Asia Tenggara ke ASEAN

Asia Tenggara adalah sebuah kawasan yang menjadi rebutan terutama sejak Perang Dunia II. Selain karena sumber daya alamnya yang sangat melimpah, kawasan ini juga memiliki fungsi geostrategis yang sangat penting. Hal ini dapat dibuktikan dengan terjadinya beberapa konflik kepentingan dan ideologi di kawasan ini. Akibatnya, banyak pangkalan militer negara-negara besar berdiri di kawasan ini.
Dimulai sekitar abad ke-2 M, Asia Tenggara menjadi kawasan yang sangat kaya akan budaya. Asia Tenggara menjadi salah satu jalur perdagangan yang sangat ramai. Ditambah dengan banyaknya kerajaan yang berkembang dan kedatangan berbagai misionaris dan pedagang membuat Asia Tenggara memegang peranan penting dalam politik dan ekonomi. Satu persatu kerajaan besar tumbuh dan runtuh di wilayah ini. Mulai dari Kerajaan Champa, Kerajaan Khmer, Kerajaan Ayutthaya, Sriwijaya, hingga Majapahit. Ekspansi dari bangsa Eropa di Asia Tenggara dimulai oleh Spanyol. Kemudian AS di Filipina, Inggris di Myanmar, Singapura dan sebagian Kalimantan, Belanda di Indonesia, Portugis di Timor Timur, dan Perancis dengan Laos, Kamboja, dan Vietnam.
Salah satu titik yang paling parah pada Perang Dingin juga terjadi di kawasan Asia Tenggara. Perang Dingin membawa peperangan pada tingkatan ideologi, dan hal inilah yang “ditularkan” kepada seluruh dunia. Pada saat inilah istilah proxy war dikenal. Proxy war terjadi ketika negara-negara yang sedang berperang mendapat bantuan dari blok barat atau blok timur. Pada kasus di Asia Tenggara, proxy war menimpa Vietnam, Laos, dan Kamboja. Konflik yang kemudian disebut Perang Vietnam ini memakan korban hingga 5 juta jiwa. Selain dengan campur tangan dari negara lain, beberapa konflik juga terjadi karena perang kepentingan di Asia Tenggara. Hal ini bisa dilihat pada konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia, klaim Sabah antara Malaysia dan Filipina, atau berpisahnya Singapura dari Federasi Malaysia.
Disaat-saat konflik kepentingan inilah timbul rasa saling curiga dan tidak percaya antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Kawasan yang mulai terpecah ini kemudian menyadari bahwa perlunya sebuah bentuk kerjasama yang mampu mengurangi ketegangan ini. Sebuah perkumpulan yang mampu mengurangi rasa curiga dan meningkatkan kerjasama kawasan demi perkembangan negara-negara masing-masing. Beberapa organisasi kemudian terbentuk sebelum berdirinya ASEAN yang dikenal sekarang ini. Mulai dari Association of Southeast Asia (ASA), Malaya, Philipina, Indonesia (MAPHILINDO), South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO), South East Asia Treaty Organization (SEATO) dan Asia and Pacific Council (ASPAC). Setelah terbentuknya organisasi-organisasi awal tersebut, keadaan saling curiga dan konflik mulai berkurang.
Dampak dari kondisi yang semakin kondusif mendorong Menteri luar negeri Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand menjalankan pertemuan-pertemuan konsultatif. Terciptalah sebuah joint declaration dari negara-negara ini yang kemudian ditindaklanjuti hingga munculnya sebuah deklarasi yang dikenal dengan Deklarasi Bangkok. Deklarasi Bangkok atau Deklarasi ASEAN ditandatangani pada tanggal 8 Agustus 1967 oleh kelima negara tersebut. Sesuai dengan harapan awal penandatanganan perjanjian ini, tujuan dan prinsip ASEAN tercantum dalam tujuh poin. Yang intinya adalah equality, sovereignty, consensus and consultation, common interest, dan solidarity. Maknanya kurang lebih adalah setiap anggota memiliki kedudukan yang sama dengan menghargai kedaulatan masing-masing negara. Musyawarah menjadi cara menentukan kebijakan demi kepentingan bersama atas dasar kerjasama.
Sesuai dengan motivasi ASEAN, demi lingkungan kawasan yang stabil agar masing-masing negara fokus dengan pembentukan nation building, terbentuklah beberapa bentuk kerjasama dibawah ASEAN untuk membantu tercapainya tujuan tersebut. ASEAN Community adalah satu diantaranya.
Beberapa organisasi telah terbentuk sebelum ASEAN dengan tujuan yang hampir sama. Namun kesemuanya tidak dapat memberi kepuasan negara-negara anggotanya hingga akhirnya gugur satu-persatu. Akan tetapi, ASEAN yang telah berumur lebih dari 40 tahun mampu bertahan dan terus berusaha mengembangkan tujuan dan prinsipnya. Salah satu faktor penting yang turut menjaga keberadaan organisasi ini adalah kesamaan rumpun budaya para negara anggota. Melihat hal ini, dianggap perlu untuk menciptakan sebuah komunitas yang mampu mengintegrasikan masyarakat di Asia Tenggara dalam sebuah visi dan misi yang sama. Komunitas inilah yang disebut ASEAN Community.
Pembentukan Komunitas ASEAN sebenarnya telah disinggung pada visi ASEAN 2020, di Kuala Lumpur pada tahun 1997. Yang intinya adalah harapan atas pembentukan suatu komunitas negara-negara Asia Tenggara yang terbuka, damai, stabil dan sejahtera, saling peduli, diikat bersama dalam kemitraan yang dinamis di tahun 2020 nanti. Selain itu, komunitas ini bertujuan untuk membahas masalah lokal sebelum mempengaruhi seluruh kawasan. Kesepakatan pembentukan ASEAN Community sendiri terjadi pada KTT ke-9 melalui Bali Concord II pada tahun 2003 di Bali.
Sebenarnya banyak hal yang menjadi momentum kemudian mendorong lebih cepat hingga tercapainya kesepakatan pendirian Komunitas ASEAN. Misalnya saja, berakhirnya Perang Dingin, globalisasi yang terus menjadi wacana hangat, kebangkitan pengaruh ekonomi dan politik China dan India hingga akhirnya masalah krisis ekonomi yang melanda Asia. Hal ini dapat dirasakan dari perubahan sikap diplomasi ASEAN yang dulunya bersifat preventif dengan hanya menjaga hubungan masing-masing negara, kini menjadi diplomasi yang condong ke arah membangun sebuah komunitas demi menghadapi globalisasi.
Komunitas ASEAN terdiri atas 3 pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN. Berdirinya Komunitas ASEAN tersebut diharapkan mampu membuat masyarakat Asia Tenggara tidak gagap dalam menghadapi pasar barang, jasa, dan tenaga kerja global yang begitu bebas nantinya. Namun, rencana semula ASEAN dalam menerapkan komunitas ini dipercepat menjadi tahun 2015 melalui KTT di Cebu, Filipina pada tahun 2007.
Percepatan penerapan Komunitas ASEAN dilakukan mengingat kondisi dunia yang terus berubah semakin cepat. Globalisasi produk dan jasa terus masuk ke kawasan Asia Tenggara. Entah itu dari Amerika, Eropa, terutama China dan India. Hal ini mengingat China dan India kini menjadi negara yang paling pesat perkembangannya dan siap menjadi pusat industri dunia, sehingga pembentukan komunitas ini makin dianggap perlu. Karena, dengan berdirinya Komunitas ASEAN akan lebih memperkuat resistensi kawasan Asia Tenggara agar lebih bersiap dalam pasar bebas dunia sehingga tidak tertinggal atau terseret arus.
Dan penerapan tiga pilar Komunitas ASEAN akan menjadi cara dalam menyatukan kawasan Asia Tenggara. Pilar pertama yaitu Komunitas Keamanan ASEAN. Melalui pilar ini diharapkan sesama negara anggota ASEAN akan menjaga kondisi keamanan dan politik di masing-masing negaranya agar tidak perlu meluas menjadi masalah kawasan apalagi menjadi masalah internasional. Dengan kondisi kawasan yang terjamin akan menimbulkan kepercayaan dari negara-negara lain diluar kawasan. Sehingga arus investasi ke Asia Tenggara tidak akan menimbulkan keraguan negara-negara modal. Selain itu, dengan terciptanya kondisi stabil kawasan maka konflik lebih mudah dihindari, atau tersedianya solusi atas konflik yang sedang terjadi. Entah konflik tersebut terjadi antar etnis atau negara.
Kemudian pilar berikutnya, Komunitas Ekonomi ASEAN. Tujuan akhir dari pembentukan komunitas ekonomi ini adalah menciptakan sebuah masyarakat dengan perekonomian yang terintegras, dimana arus barang, jasa, dan investasi akan lebih mudah masuk. Pentingnya sebuah perekonomian yang bersatu agar terciptanya sebuah pasar tunggal. Dengan pasar tunggal, maka arah perekonomian akan lebih jelas sehingga lebih mudah dijalankan negara-negara anggotanya. Pasar tunggal juga dapat menentukan arus barang dan jasa di dalam kawasan sehingga tidak terjadi perebutan pasar tapi pembagian komoditas ekonomi yang jelas dan merata. Tidak perlu lagi ada rebutan pasar CPO antara Indonesia dan Malaysia, atau pasar beras antara Indonesia dan Vietnam, dan sebagainya. Terbentuknya ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dan ASEAN Investment Area (AIA) menjadi bukti adanya sebuah mekanisme implementasi yang kuat ke arah pasar tunggal.
Komunitas Ekonomi ASEAN juga bertujuan untuk mempersiapkan negara-negara anggota ASEAN agar bersiap dalam menghadapi persaingan pasar bebas. Hal ini diwujudkan dengan memberikan atau memperkokoh fasilitas ekonomi atau bisnis peorangan, khususnya dalam sektor ril, kemudian membentuk mental dan kemampuan masyarakatnya dalam menghadapi pasar. Dalam hal ini adalah menciptakan pengusaha dan buruh agar memiliki kemampuan dan bakat yang dibutuhkan. Hal lain yang dibutuhkan selain kesiapan SDM adalah kesiapan teknologi dan infrastruktur ekonomi dalam kawasan umumnya, dan negara khususnya.
Pilar terakhir adalah Komunitas Sosial-Budaya ASEAN. Tidak dapat dipungkiri, kondisi sosial-budaya adalah salah satu hal yang membuat ASEAN masih ada hingga sekarang. Kondisi masyarakat dan lingkungan budaya yang sama pula yang menjadi motivasi utama pembentukan Komunitas ASEAN akan tercapai. Inti dari pilar terakhir ini dapat dipecah menjadi tiga, yaitu partnership sebagai sebuah komunitas, peningkatan standar hidup, dan warisan kebudayaan.
Kedepannya warga negara-negara kawasan Asia Tenggara tidak memandang negara tetangganya sebagai rival atau lawannya, melainkan “teman seperjuangan”. Masyarakat akan menyadari bahwa mereka harus bekerja sama demi mencapai tujuan bersama. Karena tanpa adanya rasa saling menghormati, kekompakan dan harmonisasi kehidupan bermasyarakat, akan menjadi sangat sulit ketika Asia Tenggara dihadapkan pada globaliasi dan kroninya. Dibutuhkan partnership sebagai sebuah komunitas.
Kemudian sesuai dengan tujuan awal terbentuknya suatu organisasi adalah peningkatan kehidupan masyarakat anggotanya. Dalam konteks pilar ketiga ini diharapkan masyarakat ASEAN tidak hanya dalam ekonomi namun akan mengalami peningkatan dalam berbagai bidang. Misalnya saja masalah pendidikan, kemudian pelatihan serta pemberian kemampuan kerja lainnya. Selain itu masalah perkembangan teknologi, dan masalah perlindungan sosial dan jaminan kesehatan. Karena seperti yang diketahui bersama, beberapa negara dalam kawasan Asia Tenggara masih belum siap menghadapi dunia yang lebih luas dengan segala kekurangan yang terjadi di negara masing-masing.
Salah satu langkah kongkrit dalam menghadapi masalah skill dan pendidikan di Asia Tenggara adalah dengan penawaran beasiswa oleh Singapura kepada 9 negara ASEAN lainnya, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, yang mencakup biaya akomodasi, makanan, masalah kesehatan dan asuransi, biaya sekolah dan ujian. Beasiswa ini disebut juga beasiswa ASEAN. Kemudian didirikannya ASEAN University Network pada November 1995. Universitas ini didirikan oleh ke-11 negara anggota.
Mengingat keuntungan yang bisa didapatkan dari kawasan Asia Tenggara, akhirnya begitu banyak kepentingan yang bermain didalamnya. Salah satu negara yang cukup menjadi “ancaman” adalah China. Negara yang cukup dekat dari Asia Tenggara ini terus menancapkan pengaruhnya dalam bidang ekonomi bahkan militer. Dalam bidang ekonomi, dengan terus menanamkan investasinya dan melakukan kerjasama-kerjasama regional. Kemudian, dalam bidang militer dengan penjualan senjata yang memiliki harga yang lebih murah dibanding Eropa dan AS membuat China memiliki bargaining point yang kuat di Asia. Hal inilah yang mendorong wilayah Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara menjadi konflik kepentingan antara AS dan China. Hal inilah yang membuat dirasa perlunya mempererat hubungan antar sesama negara Asia Tenggara. Diperlukan sikap kolektif dalam menyatukan kekuatan untuk menghadapi tantangan ini. Demi mengurangi konflik kepentingan negara asing di kawasan Asia Tenggara.
Kemudian masalah perairan yang sering menimpa negara-negara maritim. Mulai dari masalah penangkapan ikan di wilayah negara lain, penyelundupan senjata dan narkoba, hingga imigran-imigran gelap. Banyak kasus di wilayah perairan yang terjadi akibat lalainya keamanan negara tersebut, kondisi dan suasana negara saat itu, atau ketertinggalan teknologi transportasi laut. Ketika Komunitas ASEAN telah terbentuk diharapkan semua masalah-masalah seperti ini tidak ada lagi. Karena salah satu pilarnya yang menganggap bahwa negara lain adalah teman, maka negara-negara akan saling bahu-membahu menyelesaikannya. Meskipun hingga saat ini belum ada wacana yang diangkat terkait menjadikan ASEAN sebagai sebuah blok atau pakta pertahanan.
Pendirian Komunitas ASEAN bukannya tidak menemui halangan dan hambatan. Banyak hal yang ikut menahan laju pembentukan komunitas ini. Misalnya saja masalah kedaulatan. Hal ini akibat masalah politik-keamanan adalah hal yang masih sangat sensitif di negara-negara Asia Tenggara. ASEAN menerapkan hak tidak diintervensi oleh negara lain sangat kaku sehingga sangat sulit untuk suatu negara mencoba mempengaruhi kebijakan suatu negara. Namun hal ini sangat sulit bahkan tidak mungkin dihilangkan, mengingat kondisi konstelasi politik di Asia Tenggara yang berbeda antar negara. Kekakuan ini juga menjadi salah satu alasan hingga beberapa negara yang cenderung totaliter, diktator, atau menerapkan militer akhirnya mau bergabung dengan ASEAN hingga genap 10 negara. Jadi kekakuan non-intervensi ini mungkin akan berlangsung cukup lama.
Masalah lain adalah masih adanya sedikit perasaan belum nyaman antar negara. Hal ini dapat dilihat dari konflik antar negara yang cenderung terjadi hingga saat ini. Mulai dari perang klaim warisan budaya, sikap militerisme yang opresif yang dalam suatu negara, perebutan kuil di perbatasan dua negara, dll. Sikap antar negara yang memang susah untuk mengalah membuat konflik antar negara sangat rentan terjadi dan sulit untuk terselesaikan.
Ketidaksiapan beberapa negara, entah dari segi teknologi, kualitas sumber daya manusia, atau kondisi politik dalam negeri, akan mempersulit langkah menuju Komunitas ASEAN. Dikhawatirkan persaingan bebas yang akan terjadi dapat menenggelamkan negara-negara yang belum siap. Contoh mudah, di Indonesia misalnya. Masalah pendidikan adalah sebuah isu yang belum terselesaikan hingga sekarang. Perbedaan kondisi pemdidikan di ibukota dan wilayah-wilayah pinggiran atau pedalaman sangat terasa. Mendiknas yang kemudian menerapkan penyamaan standar kelulusan membuat kondisi menjadi jauh lebih parah. Akibatnya banyak yang tidak lulus atau terancam tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ketidaksiapan dari segi kualitas ini akan menciptakan kekalahan dalam persaingan nantinya, walaupun hanya sesama negara Asia Tenggara.
Hambatan berikutnya dan masih ada hingga sekarang dalam pembentukan Komunitas ASEAN adalah kepentingan pembentukan komunitas ini apakah justru menjadi tunggangan negara besar seperti AS. Dapat diperhatikan pada awalnya negara-negara di Asia Tenggara sebelum membentuk ASEAN terbagi atas ideologi negara masing-masing. Berdirinya ASEAN bertepatan dengan normalisasi hubungan Indonesia dan Malaysia oleh Presiden Soeharto. Sementara diketahui bersama bahwa naiknya Jenderal tersebut menjadi Presiden sangat sarat dengan peran Amerika Serikat. Dengan Supersemar yang kontroversial, Indonesia kemudian mulai membuka hubungan dengan negara-negara berasaskan liberalisme yang pernah ditinggalkan. Kemudian berbalik meninggalkan negara-negara komunis.
Pada awal pendirian ASEAN sendiri hanya ditandatangani oleh lima negara yang “kebetulan” tidak menganut komunisme. Kemudian setelah Perang Dingin berakhir satu-persatu negara-negara lain menyusul masuk menjadi anggota ASEAN. Brunei Darussalam masuk menjadi anggota ASEAN pada tanggal 8 Januari 1984, segera setelah merdeka pada 1 Januari 1984. Kemudian Kamboja menyusul setelah kondisi politik dalam negeri mulai stabil pada 30 April 1999. Namun, bisa diperhatikan bahwa dua negara yang mengadopsi komunisme menjadi bagian ASEAN setelah berakhirnya Perang Dingin sangat kental isu ideologi.
Vietnam menjadi anggota ASEAN setelah mereka mulai membuka negaranya sebagai tempat investasi asing. Tepatnya setelah menjalankan kebijakan Doi Moi yang lebih membuka pasar. Kemudian disusul yang AS membuka embargonya atas Vietnam pada 1994. Masuknya Vietnam ke ASEAN juga ditandai dengan penandatanganan yang dilakukan oleh Vietnam untuk memberi ruang birokrasi kepada non-komunis di Paris .
Berakhirnya Uni Sovyet sebagai sekutu penting Laos menyebabkan kepemimpinan partai komunis di Laos terancam. Hal ini diperparah dengan Vietnam yang menarik pasukannya dari Laos. Gonjang-ganjing dalam tubuh pemerintahan Laos memaksa diadakannya pemilu. Setelah Nouhak Poumsavan, presiden terpilih Laos menjabat, ia mulai melakukan normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat setelah sebelumnya merubah susunan konstitusi yang sangat komunis.

Politik, ekonomi, dan sejarah dalam dunia internasional adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mereka saling terkait dan menjadi satu paket yang sama. Dalam membahas politik akan diperlukan penjalasan ekonomi, dan begitu pula sebaliknya ketiganya saling berhubungan. Komunitas ASEAN memikul harapan besar banyak orang mengingat prinsip dan tujuan kolektifnya. Diharapkan komunitas ini akan mampu memperbaiki citra ASEAN khusunya di mata masyarakatnya sendiri yang mulai luntur dan dianggap tumpul. Tidak terhanyut penggalan-penggalan sejarah ASEAN sebagai sebuah kebanggan masa lalu. Kemudian kawasan Asia Tenggara jika telah menjadi sebuah komunitas maka negara-negara didalamnya akan memiliki bargaining position yang kuat di mata dunia internasional. Selain itu kawasan ini adalah sebuah pangsa pasar yang sangat luas, dengan sumber daya alamnya yang masih melimpah, dan jumlah tenaga kerja yang luar biasa membuat ASEAN dalam segi ekonomis sangat menarik minat negara-negara produsen dunia. Kondisi ekonomi kawasan Asia Tenggara akan mempengaruhi pengaruh politiknya di dunia. Sementara kestabilan kondisi politik kawasan ini akan menjamin keberlangsungan ekonominya. Tanpa terlepas dari sejarah dan kondisi negara-negara Asia Tenggara hingga saat ini. Karena semuanya akan saling mempengaruhi.

Referensi utama:
ASEAN MENATAP MASA DEPAN; 40 TAHUN ASEAN, Direktorat Jederal Kerjasama ASEAN Departemen Luar Negeri RI, Jakarta: 2007

Saturday, 26 June 2010

(artikel) Prospek Militer Indonesia-Afrika

PENDAHULUAN
Pasca pernyataan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Mesir langsung menindaklanjuti hal ini dengan mengadakan rapat para menteri Luar Negeri negara-negara anggota Liga Arab. Hal ini berbuntut dengan dikeluarkannya resolusi pengakuan kemerdekaan RI sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh pada tanggal 18 November 1946. Hal ini menjadi salah satu pengakuan de jure pertama Indonesia di mata dunia Internasional.
            Namun, untuk memberitahukan hasil resolusi ini bukanlah hal yang mudah. Sekjen Liga Arab saat itu mengutus Konsul Jenderal Mesir di India menuju Indonesia. Akhirnya pada tanggal 15 Maret 1947, setelah melewati berbagai rintangan dan perjalanan panjang dari Belanda, ia berhasil masuk dan diterima secara kenegaraan di ibu kota RI saat itu, Yogyakarta. Tindakan yang dilakukan LIga Arab, khususnya Mesir  ini terus dilanjutkan hingga meja Dewan Keamanan PBB. Hal ini kemudian ditanggapi oleh Indonesia dengan membuka Perwakilan RI di Mesir.
            Tahun 1956, setelah aneksisasi oleh Inggris, Perancis, dan Israel di Mesir, akhirnya Majelis Umum PBB meminta penarikan pasukan asing tersebut dari Mesir. Indonesia yang ikut mendukung hal ini kemudian untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir, selain sebagai salah satu bentuk balas budi. Pasukan ini kemudian diberi nama Kontingen Garuda I atau KONGA I.
            Melalui salah satu bentuk kepercayaan yang diberikan oleh PBB ini terus berlanjut dengan pemgiriman pasukan KONGA II ke Kongo pada tahun 1960 hingga 1961. Khusus untuk pengiriman pasukan kedua ini, merupakan sebuah awal dari peluang kerjasama militer yang nantinya akan terjalin antara Indonesia dan beberapa negara di kawasan Afrika. Apalagi dengan beberapa operasi susulan yang kembali menempatkan pasukan Indonesia di berbagai negara di Afrika. Misalnya, KONGA X ke Namibia pada tahun 1989, KONGA XIII ke Somalia pada tahun 1992, KONGA XVI ke Mozambik pada tahun1994, KONGA XIX ke Sierra Leone pada tahun 1992, KONGA XX ke Kongo dimulai dari tahun 2003, KONGA XXI di Liberia dimulai dari tahun 2003, dan terakhir adalah KONGA XXII di Sudan pada tahun 2008.

PEMBAHASAN
            Pada masa jaya militer Indonesia, pemgiriman pasukan sebagai Kontingen garuda bisa mencapai ribuan personel. Baik dari prajurit, perwira, maupun medis. Misalnya saja KONGA II yang dikirim ke Kongo mencapai 1.074 personel. Hal ini dimungkinkan selain karena jumlah pasukan militer Indonesia saat itu yang terbilang cukup banyak, juga karena Indonesia yang saat itu tengah gencar mencari perhatian dunia internasional.
            Melalui sektor pertahanan dan keamanan inilah Indonesia pertama kali memiliki nama yang disegani oleh negara-negara lain. Selain itu, sektor ini turut mendukung hubungan bilateral dengan negara-negara lain, khususnya negara-negara berkembang dan negara yang baru saja merdeka saat itu. Indonesia dianggap sebagai negara yang mampu dijadikan sebagai sahabat baik dengan kemampuan Indonesia menjamin keamanan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, apalagi di dalam negeri sendiri. Berkat rasa hormat dan segan yang dimiliki oleh Indonesia, menimbulkan kepercayaan diri Indonesia untuk mengusahakan dan mendorong terbentuknya berbagai organisasi dan konferensi regional dan dunia, seperti GNB, KAA, Asean, dll. Pembentukan organisasi-organisasi ini semakin memperkuat sekaligus memperluas jaringan diplomasi Indonesia ke berbagai negara. Khususnya negara-negara Asia-Afrika.

1.      Kondisi Keamanan di Afrika
Ketika mengasosiasikan sebuah benua yang penuh dengan konflik, Afrika adalah hal pertama yang akan terbayang. Hal ini tidaklah salah mengingat konflik yang terjadi dunia sebagian besar adalah milik Afrika. Mulai dari masalah perbatasan, ekonomi, kesenjangan sosial, kekuasaan dan politik, etnis dan agama, hingga masalah ideologi. Dan jumlah korban yang ditelan tidak tanggung-tanggung. Misalnya saja, untuk perang etnis di Rwanda memakan korban hingga 1 juta lebih korban jiwa.
Perang yang telah ada semenjak ribuan tahun ini telah terjadi atau masih terjadi di seluruh Afrika. Pelakunya pun terus berubah, bertambah atau berkurang. Di mulai dari zaman kerajaan yang melibatkan kerajaan-kerajaan masa lampau, masa kolonialisme melawan bangsa Eropa, hingga kini menjadi perang sipil antara orang-orang Afrika atau antar negara.
PBB sebagai organisasi dunia yang berperan sebagai polisi dunia melakukan berbagai upaya dalam membantu pemulihan keamanan dan stabilitas dalam negeri di berbagai belahan Afrika. Ratusan ribu bahkan jutaan pasukan penjaga perdamaian telah diturunkan untuk membantu menciptakan kondisi tersebut. Diantara beberapa negara-negara yang diminta berperan sebagai pasukan penjaga perdamaian di Afrika adalah Indonesia.

2.      Kekuatan Militer Indonesia Era Soekarno
Salah satu informasi yang cukup sulit dikumpulkan pada era perjuangan menjaga kemerdekaan adalah jumlah pasukan Indonesia saat itu. Selain karena memang saat itu Indonesia belum memiliki pasukan resmi, juga dikhawatirkan jika nantinya akan terjadi kesalahpahaman dengan pihak Belanda saat itu. Karena jika sampai pasukan nasional mulai dibentuk akan timbul kekhawatiran orang Belanda yang masih berada di Indonesia dengan adanya kesan bahwa Indonesia menyiapkan diri untuk memulai serangan kepada pihak sekutu. Hasilnya adalah BKR baik di pusat maupun di daerah berada di bawah wewenang KNIP dan KNI Daerah dan tidak berada di bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang. Selain itu, BKR juga tidak berada di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. BKR hanya disiapkan untuk memelihara keamanan daerah setempat.
Namun jumlah pasukan yang nantinya akan menjadi pasukan resmi Republik Indonesia dapat sedikit diketahui dengan membandingkannya dengan berbagai jenis pasukan yang dibentuk Jepang dan Belanda. Hal ini terlihat dari jumlah pasukan Heiho, PETA, dan KNIL. Pada awalnya, Heiho merupakan pasukan yang dibentuk oleh Jepang sebagai tenaga kasar untuk membantu Jepang menghadapi pasukan sekutu. Namun seiring terdesaknya Jepang di daerah sekitar Indonesia, akhirnya Heiho mulai dilatih menggunakan senjata. Bahkan, Heiho sempat diturunkan di Burma dan Morotai. Pasca kekalahan Jepang, Heiho yang berjumlah sekitar 42.000 orang saat itu ikut dibubarkan. Sebagian besar pasukan Heiho saat itu terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hingga akhirnya mantan anggota-anggota Heiho ini diserap oleh BKR.
PETA merupakan salah satu pasukan yang memiliki latar belakang pembentukan yang sangat kental dengan nuansa politik. Hal ini dapat dilihat dengan cara Jepang yang membuat seolah-olah pembentukan pasukan ini bertujuan untuk melindungi Indonesia, bukan Jepang. Padahal, diketahui bersama bahwa pembentukan PETA pada tahun 1943 memiliki tujuan utama untuk melindungi kepentingan Jepang di Indonesia. PETA pasca jatuhnya Jepang ikut dibubarkan yang kemudian dan sempat tidak dimasukkan kedalam pasukan nasional. Hal ini terkait dengan ketakutan Sokearno jika tentara PETA akan dijadikan perpanjangan tangan Jepang. PETA menjadi bagian dari pasukan nasional setelah BKR berganti menjadi TKR.
Koninklijk Nederlands-Indisch Leger atau KNIL  adalah pasukan yang dibentuk pasca Perang Diponegoro oleh Belanda, tepatnya pada tahun 1826 hingga 1827. 4 Desember 1830, pasukan ini kemudian menjadi salah satu kesatuan pasukan di Hindia Belanda. Yang kemudian disahkan secara resmi oleh Raja Belanda saat itu, Willem I pada tahun 1836. Diperkirakan, pada tahun 1936 jumlah KNIL meningkat melebihi 50.000 orang, dengan sebanyak 33.000 orang atau sekitar 71% adalah warga pribumi. Setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda pada tahun 1950, jumlah KNIL saat itu mencapai 60.000 orang.
Setelah seluruh elemen ini berhasil disatukan dan membentuk pasukan nasional Indonesia, kini Indonesia memiliki kekuatan militer yang tidak dapat diremehkan. Selama masa kepemimpinan Soekarno, militer Indonesia termasuk unggul di kawasan Asia. Pembuktian yang paling terlihat adalah pada Operasi Mandala. Dengan beberapa peralatan yang dipinjam maupun berhasil dibeli, Indonesia bahkan sempat dianggap sebagai negara aggressor. Misalnya saja KRI Irian yang menjadi momok menakutkan bahkan bagi Belanda. Atau kapal carrier milik Uni Soviet yang dipinjam selama masa pembebasan Irian Barat.

3.      Kekuatan Militer Indonesia Era Soeharto
Agak berbeda dengan pandangan Soekarno yang memperkuat militer di cabang udara dan laut, Soeharto justru memperkuat pasukan angkatan darat dengan memberi latihan gabungan dengan pihak asing sesering mungkin atau terus memperbaharui persenjataan. Tentu saja hal ini tidak lepas dari asal Soeharto sebagai pasukan darat. Namun, hal yang substansial terkait masalah ini adalah kondisi dalam negeri saat itu yang memaksa Soeharto. Diketahui bersama bahwa saat itu, ketika penyerahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto terkait dengan PKI. Langkah-langkah revolusi yang dilakukan PKI membuat pasukan darat harus bekerja ekstra keras dan membutuhkan kemampuan tempur serta peralatan yang jauh lebih baik.
Kemudian pada era Soeharto pasukan nasional Indonesia menjadi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan di masa inilah segudang prestasi pasukan darat berhasil dicapai, dalam maupun luar negeri. Kemudian bermunculanlah pasukan-pasukan khusus seperti KOPASSUS, Baret Hijau, Paskhas, dll. Di masa ini Indonesia menjadi “Macan Asia” melalui kemampuan militernya. Jumlah pasukan saat ini bahkan mencapai lebih dari 500.000 personel dengan persenjataan yang senantiasa diperbaharui khususnya angkatan darat.

4.      Kekuatan Militer Indonesia Era Reformasi
Berakhirnya orde baru membuat kekuasaan Soeharto turun, yang berarti pasukan darat harus bersiap tidak menjadi kesayangan negara lagi. Terbukti pada era reformasi pendanaan militer Indonesia turun dari sekitar US$ 3,3 miliar menjadi US$ 2,5 miliar. Dengan personil di tahun 2009 mencapai 400.000 orang. Selain itu terjadi beberapa kemunduran-kemunduran kemampuan militer Indonesia. Mulai dari kendaraan tempur yang tidak terawat, pasukan yang semakin “lemah” jika dibandingkan dengan negara tetangga lain. Entah dari segi perlengkapannya maupun kemampuan perangnya.
Meskipun terjadi berbagai hal negatif bagi kondisi militer Indonesia selama masa reformasi, pemerintah terus berusaha meningkatkan kinerjanya. Melalui janji-janji yang dikeluarkan selama kampanye, para penguasa berusaha menarik suara rakyat. Walaupun setelah terpilih belum terlihat perubahan yang signifikan.

5.      Peluang dan Tantangan Hubungan Indonesia dan Afrika dalam Sektor Militer
 Tercatat telah delapan kali Indonesia ikut menyumbangkan bantuan pasukannya sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian di Afrika. Mulai dari Kongo, Namibia, Mozambik, Somalia, Sierra Leone, dan yang terbaru Sudan. Pada masa Soekarno dan Soeharto, KONGA menjadi kebanggaan dalam negeri yang mampu mendongkrak kepercayaan diri bangsa Indonesia. jika dilihat dari sudut pandang yang cukup berbeda, Indonesia menggunakan momen ini untuk memamerkan kekuatan tempur Indonesia di mata dunia internasional. Hal ini dapat dilihat dengan pengiriman KONGA I yang sangat beresiko dengan kondisi dalam negeri. Masalahnya, saat itu sedang marak pemberontakan dan gerakan-gerakan sporadis di Indonesia, mulai dari menuntut keadilan di pusat hingga kemerdekaan.
Kedatangan KONGA di Afrika mendapat sambutan yang baik, dari negara-negara Eropa maupun Afrika. Secara psikologis, bagi Eropa hal ini akan membuat mereka mampu “beristirahat” pasca Perang Dunia dan meringankan beban mereka selama Perang Dingin. Sementara bagi orang-orang Afrika, Indonesia l;ebih mampu diterima sebagai pasukan penjaga perdamaian karena latar belakang negara mereka yang sama dan perilaku Indonesia di Afrika yang dinilai cukup baik. Tidak heran disetiap peran sebagai penjaga perdamaian, Indonesia selalu mendapat penghargaan dari PBB. Bukti lain, hampir tidak pernah terjadi konflik antara Indonesia dengan negara yang sedang dijaga.
Di era pemerintahan Soeharto, kondisi pasukan yang dikirim sebagai KONGA jauh lebih baik. Mengingat kondisi militer saat itu “menganak-emaskan” pasukan darat. Hal ini membuat keterlibatan Indonesia sebagai pasukan penjaga perdamaian terus meningkat. Bahkan hingga saat ini Indonesia telah mengirimkan lebih dari 50 kontingen.
Mengingat peran Indonesia telah sangat baik di Afrika, hal ini membuat popularitas Indonesia di Afrika ikut tinggi. Selain itu, sikap menerima negara-negara Afrika atas kehadiran Indonesia tidak pernah menimbulkan konflik menjadi alasan lain keakraban Indonesia dan Afrika. Berdirinya berbagai organisasi-organisasi internasional yang mempertemukan beberapa negara Afrika dan Indonesia memberikan peluang tersendiri akan kerjasama di bidang pertahanan. Apalagi potensi produksi persenjataan Indonesia sangat menggiurkan.
PT PINDAD selaku industri yang lebih dikenal dengan penjualan peralatan militernya adalah perusahaan dalam negeri yang menjadi sumber utama persenjataan Indonesia bahkan beberapa negara. Diantara negara-negara ini tersebutlah Zimbabwe, Mozambik, dan Nigeria yang notabenenya adalah negara-negara di Afrika. Salah satu kehebatan PT PINDAD adalah mampu memproduksi senjata yang mirip dengan milik Israel. Dan tentu saja dengan harga yang lebih murah. Senapan mesin serbu tipe SS2 merupakan salah satu produk yang diekspor ke negara-negara di Afrika tersebut.
Meskipun demikian, terdapat beberapa hal yang membuat hubungan bilateral Indonesia dengan beberapa negara-negara di Afrika tersendat. Apalagi negara yang sedang berkonflik, baik internal maupun dengan negara lain. Jangan sampai Indonesia terjebak dengan kondisi untuk berpihak ke negara tertentu, sementara Indonesia menerapkan kebijakan luar negeri bebas dan aktif. Apalagi kalau sampai dikaitkan dengan konflik yang sedang terjadi.
Hal lain yang menjadi pemikiran adalah persaingan dengan negara-negara Timur Tengah dan Eropa. Jika dalam masalah teknologi dan kemampuan militer Indonesia mungkin akan kalah. Satu-satunya kesempatan Indonesia adalah harga yang bersaing dan alasan tradisional dengan mengandalkan kedekatan antar negara yang berjalan tanpa konflik. Walaupun hubungan Indonesia dan negara-negara Afrika baik-baik saja, namun tidak memiliki hubungan yang dekat. Apalagi belum banyak perwakilan Indonesia yang berada di Afrika. Rata-rata masih berperan ganda di lebih dari satu negara. Misalnya saja KBRI di Nigeria juga menjadi perwakilan di Ghana, atau belum berdirinya KBRI Malawi dan Indonesia harus diwakili oleh Tanzania. 
PENUTUP
Prospek kerjasama Indonesia dan negara-negara di Afrika memiliki masa depan yang cerah. Hal ini mengingat dari hubungan yang telah cukup lama terjalin ditambah beberapa negara-negara di Afrika memasuki beberapa-beberapa organisasi yang Indonesia ikut berada didalamnya. Selain masalah latar belakang negara pada era kolonialisme yang hampir sama, negara-negara di Afrika juga menjadi pangsa pasar Indonesia, khususnya peralatan militer yang cukup terjangkau tapi berkualitas.

Namun demikian, kondisi kerjasama antar negara, apalagi dalam aspek militer patut berhati-hati. Jangan sampai terjadi penilaian dunia internasional sebagai negara yang memanfaatkan kondisi penuh konflik di Afrika. Yang akhirnya merepotkan hubungan dengan negara lain, khususnya negara maju. Apalagi jika sampai dikaitkan dengan konflik yang telah terjadi, sedang terjadi, atau yang akan terjadi.

Sunday, 11 April 2010

(artikel) Tentara Bayaran di Sierra Leone

Penggunaan tentara bayaran seolah-olah menjadi suatu kewajaran ketika sebuah negara tidak mampu memenuhi kebutuhan militernya atau dalam bidang keamanan. Tentara bayaran bersifat lebih mahal diawal namun tidak perlu diurusi biaya-biaya kebelakangnya. Jadi, perumpamaannya adalah ‘tentara bayaran, mahal perdananya gratis vouchernya’. Hal inilah yang sangat menarik untuk dibahas mengingat penggunaan tentara bayaran yang sangat luas di kalangan MNC, pemerintahan, hingga perorangan. Layaknya barang dagangan, tentara bayaran ada karena permintaan. Permintaan-permintaan itu seperti membunuh seseorang, menjaga suatu wilayah atau orang, hingga sebagai eksekutor ‘siluman’ suatu negara. Negara-negara konflik, MNC atau perusahaan tambang, penguasa atau pengusaha dengan banyak musuh merupakan langganan tetap perusahaan-perusahaan ini.

Sierra Leone adalah salah satu negara penghasil barang tambang, terutama berlian, terbesar di dunia dengan keuntungan mencapai 250-300 juta dollar AS per tahun. Hasil tambang dari negara dengan ibukota bernama Freetown ini, selain berlian konflik (blood diamond) yang sangat terkenal, juga rutile (sejenis bijih uranium), emas dan bauksit. Semua kekayaan tambang ini menjadi sebuah dilema bagi Sierra Leone, karena di satu sisi sangat menguntungkan dan menggiurkan dengan keuntungan yang sangat tinggi. Namun di sisi lain menjadi rebutan berbagai pihak mulai dari para negara maju, MNC-MNC pertambangan, hingga penduduk dalam negeri sendiri yang menjadi pemberontak.

Penyewaan tentara bayaran di Sierra Leone menjadi pemandangan umum mengingat negara ini terus-menerus diterpa konflik yang membuat pembangunan infrastruktur tertatih-tatih, korupsi merajalela dan pemberontak-pemberontak RUF yang terus-menerus mengancam pemerintahan. Di Sierra Leone tentara bayaran digunakan selain oleh pemerintah juga perusahaan barang tambang asal Amerika dan Eropa yang menambang di sana. Executive Outcome adalah salah satu Privat Military Corporation (PMC) yang aktif cukup lama di Sierra Leone.

Sejarah Lahirnya Tentara Bayaran

Tentara bayaran pertama kali di Afrika digunakan di Mesir Kuno oleh Firaun Ramsis II yang menggunakan 11 ribu tentara bayaran yang disebut Medjay pada abad tahun 1200 SM. Selain Medjay, Mesir juga sering menggunakan tentara Libya , Syria, dan Kananit sebagai pengawal pribadi firaun. Untuk Asia sendiri, tentara bayaran pertama kali berada di Jepang. Mereka adalah kelompok Saiika dari provinsi Kii. Adalah Oda Nobunaga, seorang jenderal yang berusaha mendapatkan kekuasaan di Jepang, yang menggunakannya pada peperangan Ishiyama Hongan-ji.

Di Eropa, penggunaan tentara bayaran pertama kali pada era klasik dan saat itu Yunani memiliki prajurit terbanyak dan menjadi favorit kerajaan-kerajaan lain. Kerajaan Persia menjadi kerajaan langganan tentara bayaran ini. Pada abad pertengahan di kerajaan Roman, tentara bayaran menjadi suatu kebutuhan entah karena kurangnya sumber daya manusia, tidak cukup waktu untuk melatih sendiri, tidak memiliki bahan baku untuk membuat senjata, atau hanya karena masalah politik. Salah satu tentara bayaran favorit lainnya pada masa lalu adalah Varangian Guard atau orang-orang Viking yang dikenal karena kebrutalannya dalam menguasai suatu wilayah.

Wilayah Arab juga dikenal tentara bayaran. Suku Assyura menjadi cikal-bakal penggunaan kata assassin. Menurut literatur yang ada, mereka mampu masuk ke dalam tenda pemimpin musuh tanpa diketahui. Saladin sendiri pernah diancam ketika dia tertidur di tendanya. Saat itu, Saladin bangun dan mendapati di sampingnya telah ada roti beracun dan secarik kertas ancaman.

Tentara bayaran berbeda dengan Perusahaan Militer Swasta (PMC). Semua PMC pastilah tentara bayaran, tapi tentara bayaran belum tentu tergabung dalam PMC. Sebagai contoh, ada pasukan Air Tiger di Cina sebagai tentara bayaran tanpa tergabung dalam perusahaan tertentu. namun, tentara bayaran dalam PMC lebih mudah direkrut dibanding yang bekerja sendiri.

Konflik di Sierra Leone dan Masuknya Tentara Bayaran

Sierra Leone terletak di Afrika Barat dan berbatasan dengan Guinea, Liberia, dan Samudera Atlantik. Dengan luas 71,740 km2, Sierra Leone memiliki penduduk sebanyak 6.294.774 jiwa menurut data CIA pada tahun 2008. Dengan iklim tropisnya, wilayah Sierra Leone terdiri dari savannah hingga hutan hujan. Namun, lebih dari dua dekade perang sipil merusak dan menggoyahkan pemerintahan. Salah satu sumber perang sipil di Sierra Leone adalah konflik di Liberia.

Perang sipil pecah di Sierra Leone umumnya karena tiga hal, yaitu korupsi yang terjadi dalam tubuh pemerintahan, kepengurusan sumber daya alam, terutama berlian, yang buruk, dan faktor eksternal karena sedang terjadi perang sipil di Liberia yang notabenenya tetangga Sierra Leone. Pemimpin National Patriotic Front of Liberia dikabarkan membantu Revolutionaty United Front (RUF) pimpinan Foday Sankoh, seorang mantan tentara Sierra Leone. Sebagai gantinya, Taylor mendapatkan berlian dari hasil jarahan RUF. Serangan pertama RUF terjadi di Distrik Kailahun, timur Sierra Leone. Serangan dari Liberia ini terjadi tanggal 23 Maret 1991. Pemerintahan yang sedang lemah akibat masalah ekonomi dan korupsi tidak mampu membendungnya. Dalam sebulan RUF berhasil menguasai hampir seluruh daerah di Provinsi Timur. Disinilah mulai dikenal strategi untuk menggunakan anak-anak sebagai tentara.

Belum selesai dengan RUF, terjadi percobaan kudeta di tubuh pemerintahan. 22 April 1992, enam tentara Sierra Leone mengasingkan Presiden Sierra Leone, Joseph Momoh, ke Guinea. Hal ini terjadi diduga karena keenam tentara tersebut frustasi akibat kegagalan pemerintah dalam mengahadapi RUF. Khusunya bagi Momoh yang dianggap tidak serius dan partai oposisi All People’s Congress (APC) yang terus meningkat kekuatannya. Keenam tentara tersebut berhasil mengasingkan presiden dengan bantuan pangkat tinggi mereka di militer. Mulai dari Letnan Kolonel, Kolonel, Kapten, hingga Brigadir Jenderal. Mereka kemudian membentuk pemerintahan baru, National Provisional Ruling Council (NPRC) dengan Kolonel Yahya Kanu sebagai pemimpinnya. Namun diduga akan bernegosiasi dengan APC, Kanu dibunuh oleh seorang anggota NPRC.

4 Mei 1992, Valentine Strasser, seorang kapten berumur 25 tahun yang ikut mengkudeta Momoh, menjadi pengganti Kanu dan juga sebagai kepala negara. Rakyat yang Sierra Leone yang gembira atas kemenangan NPRC, yang berhasil menjatuhkan kediktatoran APC yang dianggap korup, turun ke jalan. Junta NPRC, segera setelah menguasai negara, membekukan konstitusi dengan menerapkan negara dalam kondisi darurat. Selain itu larangan berbicara dan pemberitaan juga diterapkan. Yang palih parah adalah tentara dan polisi diberi wewenang tidak terbatas untuk menegakkan hukum tanpa perlu takut untuk dihukum atau dibawa ke pengadilan.

NPRC ternyata tidak lebih baik dari Momoh dalam mencegah RUF. Semakin banyak wilayah yang jatuh ke tanngan RUF, termasuk sebagian besar daerah tambang berlian di timur. NPRC membalasnya dengan menyewa ratusan tentara bayaran dari Executive Outcome. Dalam sebulan para tentara bayaran berhasil memukul mundur para pemberontak kembali ke perbatasan Sierra Leone. Namun, di pemerintahan korupsi terus meningkat diantara para anggota NPRC. Strasser menurunkan wakil presidennya kemudian menjadikan Julius Maada Bio, yang turut mengkudeta Momoh, menjadi menjadi perwakilannya. Anggota NPCR lain yang tidak puas, termasuk Bio, kembali melakukan kudeta.

Maada Bio kemudian mengaktifkan Konstitusi dan mengadakan pemilihan umum. Setelah pemilihan, Bio mengembalikan tampuk kepemimpinan kepada pemerintahan sipil. Namun, tahun 1996 Mayor Jenderal Johny Paul Koroma melakukan kudeta. Dia kemudian ditangkap dan dipenjara. Beberapa petinggi militer yang tidak senang dengan hal ini membentuk Armed Forces Revolutionary Concil (AFRC) dan menjungkalkan pemerintahan. AFRC kemudian membebaskan Koroma dan mengangkatnya sebagai presiden dan kepala negara. Koroma membekukan konstitusi, melarang demonstrasi, dan menutup semua kantor radio swasta. Parahnya, dia mengajak RUF untuk bersama-sama memerintah. 10 bulan kemudian Koroma dijatuhkan tentara PBB, ECOMOG dibawah Nigeria, yang kemudian mengembalikan posisi pemerintahan. Orang-orang yang terbukti bekerjasama dengan AFRC dihukum oleh pemerintah karena AFRC diduga berusaha membelot.

PBB yang berusaha membantu Sierra Leone mengirimkan pasukan penjaga perdamaian. Ribuan pasukanpun ditempatkan di Sierra Leone. Namun, segera setelah Nigeria mulai meninggalkan Sierra Leone, pasukan PBB yang bermaksud mengamankan senjata-senjata RUF, terlibat bentrok. Sekitar 500 tentara PBB dijadikan sandera. Hal ini kemudian kembali memicu perang antara pemerintah dan RUF.

Tahun 2001, PBB kembali terlibat dan mulai mengamankan Sierra Leone. Perang berakhir Januari 2002 yang dilanjutkan dengan mengadakan pengadilan pelanggaran HAM oleh PBB. Pasukan PBB ditarik sepenuhnya tahun Desember 2005.

Informasi Tambahan Dibalik Konflik Sierra Leone

Executive Outcome (EO) adalah perusahaan militer swasta Afrika Selatan. Pendirinya adalah Letnan Kolonel Eeben Barlow dari Pasukan Keamanan Afrika Selatan. PMC yang berdiri pada tahun 1981 ini kemudian bergabung dibawah Strategic Resource Corporation. EO menyediakan pasukan, pelatihan, dan bantuan logistik, hanya kepada pemerintahan yang diakui secara resmi. Meskipun demikian EO lebih sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk mengendalikan sumber daya alam dalam negara konflik atau wilayah-wilayah dalam suasana kacau. Namun, EO mengaku bahwa dalam aksinya mereka mendapat persetujuan dari pemerintah setempat, bukannya perusahaan-perusahaan di negara tersebut.

Sebelum EO ditempatkan di Sierra Leone, sebenarnya telah ada pasukan Gurkha Security Guard (GSG). Pasukan yang ditarik dari India dan dilatih oleh Inggris ini ditempatkan di Sierra Leone untuk membantu pemulihan keamanan selama perang sipil. Namun, Gurkha kemudian meninggalkan Sierra Leone karena Komandan mereka, Robert Mackenzie yang berasal dari Kanada, serta beberapa prajurit Gurkha lainnya dibunuh oleh RUF pada Februari 1995.

Sebelum tahun 1997, EO adalah bagian dari Sandline International, sebuah PMC. Namun EO melepaskan diri setelah kegagalan Sandline dalam menempatkan EO di Papua New Guinea (PNG). Saat itu terbukti bahwa Perdana Menteri PNG Julius Chan menyewa tentara bayaran untuk melindunginya. Selain itu, setelah EO selesai di Sierra Leone, Sandline yang menggantikannya. Kuat dugaan bahwa hal ini terkait dengan hubungan masa lalu mereka.

Pada tahun 1995, EO diminta oleh pemerintah Sierra Leone untuk mengamankan RUF, mengambil alih tambang berlian, dan menciptakan perdamaian. EO kemudian memulai misinya dengan mengamankan wilayah sekitar ibukota, kemudian melakukan pelatihan-pelatihan dan penyediaan alat kepada tentara pemerintahan. Selain itu, EO juga menyediakan pengamanan dan penjagaan kepada para petinggi negara. Perlengkapan-perlengkapan yang EO berikan kepada Sierra Leone misalnya sebuah pesawat Mi-24 Hind, dua helikopter Mi-8, dan kendaraan tempur BMP-2. Untuk penanganan kepada prajurit yang terluka, EO juga menyediakan pesawat Boeing 707 agar mereka bisa segera dibawa keluar dari wilayah perang.

Meskipun sejarah militer EO sangat baik, ketika terdengar pemberitaan bahwa EO ikut dalam bisnis berlian konflik, PBB mengusir mereka dari Sierra Leone. Setelah kepergian EO, Sierra Leone kembali bergolak. Pada Juli 1997, Eeben Barlow meninggalkan EO akibat tekanan pers dan publisitas buruk dunia internasional. Namun tetap menjalin kontak dengan Sierra Leone, Sandline International (PMC), dan DiamondWorks (perusahaan pertambangan berlian). Jadi kecurigaan PBB terhadap EO memang beralasan, karena Eeben Barlow sebenarnya salah seorang pemegang saham DiamondWorks. Ini terkait dengan adanya perjanjian antara Sierra Leone dan EO.

Ketika menyewa EO, Sierra Leone seolah-olah ditinggalkan oleh dunia. PBB dan organisasi kawasan Afrika, Organization of African Unity, tidak mampu berbuat apa-apa walau hanya sekedar memihak. Dalam kondisi terjepit itulah Prsiden Sierra Leone memutuskan menyewa tentara bayaran. Namun, kondisi ekonomi yang sangat buruk membuat negara tidak mampu memberi EO cukup bayaran. Akhirnya, sebagai gantinya pemerintah menjanjikan akan memberikan konsesi khusus atas penambangan berlian-berlian kepada Barlow.

Akhir tahun 1995, setelah pengamanan ibukota, EO mulai memasuki daerah pertambangan. Setelah berhasil mengamankan wilayah pertambangan akhir tahun 1995, EO mulai bekerjasama dengan milisi lokal The Kamajors. Kerjasama ini dimaksudkan untuk menjaga aktivitas penambangan sepeninggal EO nantinya. Sebagai catatan, tambang-tambang yang EO utamakan untuk diambil alih adalah tambang-tambang yang Sierra Leone berikan konsensinya. Pemimpin The Kamajors nantinya, setelah mendapat pelatihan oleh EO, diangkat menjadi Wakil Menteri Pertahanan Sierra Leone pada Maret 1996. Hingga tahun 1996 masih terdapat beberapa PMC yang dipekerjakan di Sierra Leone. Selain EO antara lain, Britain’s Defence System Limited, Lifeguard (juga milik Eeben), dan Teleservice. Lifeguard dan Teleservice adalah PMC local Sierra Leone.

EO mulai direncanakan pemutusan kontraknya setelah RUF akan berdamai dengan pemerintah. RUF menginginkan perdamaian namun setelah EO keluar dari Sierra Leone. Selain itu, EO juga dirasa pemerintah bekerja secara tidak profesional. Sebenarnya, karena PMC merupakan sebuah bisnis, EO sengaja memperpanjang konflik sehingga biaya pembayaran kerja para tentara bayaran akan bertambah. Pada tahun 1997 EO mulai meninggalkan Sierra Leone. Namun, Lifeguard memperbarui kontrak kerjanya dengan Sierra Leone agar seolah-olah tidak terkait dengan EO. Setelah diperbaharui, Lifeguard menggantikan posisi EO dalam menjaga tambang-tambang berlian dan rutil. Kasus lain dalam tubuh EO adalah mereka dikirim ke Sierra Leone atas permintaan Nelson Mandela yang mengusahakan perdamaian di sana.

Kontak Sierra Leone-Sandline dimulai tanggal 3 Juli 1997. Namun keberadaanya selama di Sierra Leone menciptakan sedikit konflik dengan pemerintahan Inggris. Sandline dituduh melakukan pengiriman senjata ke Sierra Leone. Jadi, selama Sandline bekerja di Sierra Leone pada tahun 1997, selama itu juga Sandline mengalami kasus di Inggris.

Dari Penulis

Penggunaan tentara bayaran yang kontroversial tidak terlepas dari fungsi dan hukum yang menyertainya. Terkadang tentara bayaran memang dibutuhkan ketika dunia internasional tidak mampu berpihak apalagi ikut campur. Atau misalnya ketika suatu hal butuh penanganan cepat dengan memutus rantai birokrasi. Pada kasus Sierra Leone, keberadaan tentara bayaran sebagai akibat ketidakmampuan dunia internasional dalam membantu pengamanan di sana. Seperti halnya dengan bisnis yang lain, tentara bayaran berusaha menjaga agar ‘pasar’ terus berjalan. Makanya mereka kadang bersikap berlebihan dalam menangani sesuatu. Jadi, ketika mereka berulah kemudian orang tidak suka, akan tercipta konflik yang bisa berbuntut pada lahirnya perang atau bertambahnya durasi perang. Karena tentara bayaran merupakan sebuah pekerjaan.

Memang, terkadang penggunaan tentara bayaran tidak berjalan seperti yang diinginkan. Karena, tentara bayaran adalah milik penawar tertinggi. Ketika penawar tertinggi adalah pihak musuh dari pihak yang awalnya kita bela, maka tentara bayaran akan berpihak kepada yang menawar lebih tinggi. Tentara bayaran tidak akan habis selama masih ada orang, negara, atau perusahaan yang ingin mengamankan, membunuh, atau sekedar mendapatkan pelatihan khusus. Sesuai dengan konsep permintaan barang dalam rumus ekonomi sederhana.